• Jumat, 21 Juni 2024

Pesta Kematian Rambu Solo Toraja: Bukan Melulu Urusan Pemborosan

Pesta Kematian Rambu Solo Toraja: Bukan Melulu Urusan Pemborosan
Wisatawan menyaksikan atraksi wisata budaya Rambu Solo Toraja | kemenparekraf.go.id

SEAToday.com, Jakarta-Seorang filsuf pernah berkata kematian adalah satu-satunya kebenaran akan takdir. Setiap manusia pasti akan mati. Prosesnya saja yang berbeda-beda. Masalahnya setiap kematian selalu meninggalkan kesedihan, apalagi ditinggal orang terdekat. Rasa sedihnya seraya parade kesedihan.

Kondisi itu terlihat hampir di seluruh Nusantara. Namun, masyarakat Toraja jadi pengecualian. Orang Toraja memperlakukan upacara kematian Rambu Solo dengan gegap gempita serupa pesta, alih-alih parade kesedihan. Begini ceritanya.

Sistem kepercayaan lokal kerap mendominasi kehidupan masyarakat di Nusantara. Sistem kepercayaan itu telah hadir sejak lama. Orang Toraja jadi contohnya. Mereka tetap memegang teguh sistem kepercayaan lokal, Alok Todolo.

Kepercayaan itu diyakini secara turun-temurun. Sistem kepercayaan itu menitik beratkan kepada tiga kekuatan utama: Puang Matua (pencipta alam semesta), Deata (dewa-dewa), dan Todolo (arwah-arwah leluhur).

Mereka tak dapat melepaskan sistem kepercayaan Alok Todolo. Keteguhan itu dibuktikan dengan kehadiran agama impor – Islam dan Kristen. Memang tak sedikit orang Toraja yang kemudian menganut agama Islam atau Kristen, tapi adat dan budaya Alok Todolo tetap berlanjut.

“Sekalipun sudah sebagian besar menganut agama Kristen dan Islam. Namun, mereka itu masih terikat dalam berbagai kehidupan tradisi lama atau adat istiadat yang masih nampak dalam kehidupan mereka seperti pada upacara-upacara Adat Kematian, upacara penahbisan rumah adat, sistem komunikasi sosial yaitu transaksi penyerahan dan penerimaan jual-beli,” tegas Moses Eppang dan kawan-kawan dalam buku Passomba Tedong (1990).

Orang Toraja umumnya hidup dalam satu kampung dengan orang-orang yang berasal dari satu leluhur, satu nenek moyang. Pusat pemukiman (pusat kampung) itu dikenal sebagai tongkonan. Tongkonan itulah seraya semesta. Segala macam ritual adat muncul dari tongkonan – ritus hidup kelahiran, pernikahan, dan kematian.

Esensi Rambu Solo  

Sistem kepercayaan Alok Todolo jadi pangkal cerita lahirnya kebudayaan-kebudayaan yang merekatkan tradisi dan sistem kekerabatan orang Toraja. Kekerabatan itu muncul dalam pelaksaan banyak tradisi. Ritual yang paling dikenal adalah upacara kematian.

Orang Toraja menganggap penghormatan kepada leluhur dan orang meninggal dunia cukup penting. Mereka memiliki ritual Rambu Solo. Ritual Rambu Solo sendiri dikenal sebagai ritual untuk mempersembahkan persembahan babi dan kerbau kepada arwah leluhur dan orang meninggal dunia.

Orang Toraja percaya kematian orang yang dicintai begitu menyakitkan bagi jiwa dan raga. Mereka pun bersepakat menunda penguburan. Penundaan itu berfungsi supaya mereka tetap hidup berdampingan. Proses penundaan itu dilakukan sampai pihak keluarga mulai merelakan.

Selama penundaan, jenazah diperlakukan seperti orang hidup yang sedang sakit. Istilahnya Tomakula. Jenazah tetap diberikan makan dan minum seraya orang sakit. Orang Toraja secara detail percaya proses kematian mengenal tiga fase: Bombo, To mabeli puang, dan Data.

“Bombo adalah fase dimana arwah orang yang meninggal masih dalam keadaan yang bergentayangan. To mebali puang yaitu kondisi dimana arwah berubah menjadi setingkat dewa. Sedangkan Data merupakan transformasi menuju arwah pelindung. Maka dari itu, upacara ini begitu sakral bagi Suku Toraja yang terbilang upacara mewah ini,” tegas Muhammad Sapril dalam skripsinya berjudul Rambu Solo: Makna Upacara Kematian di Tanah Toraja (2016).

Upacara Rambu Solo pun akan berlangsung jika sudah terjadi musyawarah antara keluarga. Musyawarah itu dilakukan untuk menentukan waktu upacara, tingkatan, hingga proses pengumpulan uang. Namun, bukan berarti upacara Rambu Solo melulu berbiaya mahal.

Upacara itu mengenal pula istilah tingkatan. Tingkatan paling rendah adalah upacara Rambu Solo adalah disili. Upacara yang dikhususkan kepada kaum tak berpunya. Tingkatan paling tinggi adalah dirapai. Upacara inilah yang sering dianggap sebagai musabab mahalnya biaya Rambu Solo.

Upacara itu tak lakukan dari sehari dua hari. Upacara itu memakan waktu lama. Upacara pertama dilakukan kala orang baru meninggal dunia. Upacara kedua baru dilakukan setelah setahun meninggal dunia.

Upacara kedua itu membuat jenazah diarak dari tongkonan menuju rante (tempat pelaksanaan upacara adat orang Toraja). Lalu nanti jenazah akan dinaikkan ke lakkian, tempat jenazah bersemayang. Prosesi itu biasanya jadi pesta besar.

Atraksi dalam pesta kematian itu tak sedikit. Ada tarian, ada pula acara adu kerbau.  Dana besar pun dikeluarkan untuk membeli puluhan kerbau seraya pengorbanan.Tradisi itu lalu dikenal sebagai upacara penyempurnaan kematian seseorang menuju puya, tempat peristirahatan abadi.

Bukan Soal Mahal

Tradisi Rambu Solo dikagumi sebagai salah bukti bahwa upacara kematian yang berbeda dengan upacara lainnya di Nusantara. Banyak orang jadi paham bahwa upacara kematian bisa dirayakan seperti berpesta.  

Ada yang kagum, ada juga yang melemparkan kritik. Mereka yang mengkritik rata-rata menyebut rambu solo sebagai bentuk upacara pemborosan. Antropolog dari Universitas Negeri Makassar, Dimas Ario Sumilih pun angkat bicara.

Dimas mengakui bahwa memang rambu solo kerap berbiaya mahal. Namun, Dimas melirik pelaksanaan Rambu Solo secara mendalam. Ia melihat banyak nilai-nilai positif dari eksisnya tradisi Rambu Solo.

“Rambu solo berfungsi untuk menegaskan kembali nilai-nilai budaya dan keyakinan komunitas. Upacara ini juga membantu anggota masyarakat dalam proses berduka dan memberikan kesempatan untuk memperkuat ikatan sosial. Melalui perayaan ini, menurut saya, dapat memahami bagaimana suatu masyarakat menghormati dan merayakan kehidupan seseorang yang telah meninggal, cara mereka menghadapi konsep kematian itu sendiri,” ungkap Dimas kepada SEAToday.com, 19 Mei 2024.

Dimas berpandangan ritual rambu solo dapat jadi penegas identitas kolektif orang Toraja. Tiap tradisi Rambu Solo digaungkan, rasa kecintaan akan sejarah dan tradisi orang Toraja kian bertumbuh. Mereka yang tergolong dalam generasi muda jadi dapat belajar banyak hal.

Mereka belajar bagaimana cara mengatasi rasa kehilangan. Mereka juga belajar arti penting dari konsep kecintaan, yakni keikhlasan dalam fase melepaskan. Nilai positif itu akan terus berdiam dalam sanubari dan terus di warisi orang Toraja.

Dimas pun menyebut ritual rambu solo sifatnya tak dipaksakan. Artinya strata sosial bawah tidak harus menyelenggarakan ritual rambu solo layaknya mereka yang strata sosial tinggi. Mereka dapat bermusyawarah untuk menentukan tingkatan rambu solo dan mengetahui kemampuan keluarganya.

“Ini bukan hanya soal kemampuan ekonomi, tetapi juga soal kehormatan dan penghormatan terhadap leluhur serta adat yang telah turun-temurun. Kegagalan mengadakan upacara sesuai dengan tuntutan adat dapat dianggap sebagai pelanggaran terhadap tradisi dan dapat menurunkan kehormatan keluarga tersebut di mata masyarakat,” tambah Dimas.

Lazimnya mereka yang strata sosial tinggi akan mengadakan upacara lebih besar dan mewah, dibanding mereka yang strata rendah. Perayaan itu berkaitan dengan nilai gengsi sosial. Namun, jika melihat lebih luas, pesta kematian adalah bentuk dari identitas dan pendidikan budaya bagi generasi yang akan datang yang perlu dilestarikan.

Share
Lifestyle
Jimin BTS Umumkan Comeback Dengan Album Solo Kedua: MUSE

Jimin BTS Umumkan Comeback Dengan Album Solo Kedua: MUSE

Rosé dari BLACKPINK akan Menandatangani Kontrak Eksklusif dengan...

Pada tanggal 17 Juni, NEWSEN melaporkan bahwa Rosé akan menandatangani kontrak eksklusif dengan THEBLACKLABEL yang didirikan oleh produser Teddy

Imam Besar Pastikan Tak Ada Pembagian Daging Kurban di Area Masji...

Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar memastikan tidak ada pembagian langsung ke warga di area masjid Istiqlal.

Konser Lay Zhang EXO di Indonesia Batal Digelar

Konser Lay Zhang di Indonesia batal digelar. Hal tersebut diumumkan oleh promotor iME Indonesia di akun media sosial resminya, Minggu (16/6).

Jungkook BTS Menjadi Penyanyi Solo Korea Pertama yang Mencatatkan...

14 Juni waktu setempat, Official Charts mengumumkan bahwa lagu terbaru Jungkook "Never Let Go" memulai debutnya di posisi No. 60 di Official Singles Chart.